Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo merupakan salah satu masjid bersejarah yang berada di Kampung Jawa Tondano, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Kyai Modjo dan para pengikutnya yang diasingkan Belanda ke wilayah Tondano setelah berakhirnya Perang Jawa. Bangunan ini kemudian berkembang menjadi salah satu peninggalan penting yang memperlihatkan jejak Islam dan kebudayaan Jawa di tengah masyarakat Minahasa.
Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo memiliki sejarah panjang yang membuatnya berbeda dari masjid pada umumnya. Masjid ini dibangun sekitar 1856 dan hingga kini masih menyimpan sejumlah bagian lama, termasuk mimbar yang disebut masih asli sejak masa pendiriannya. Perjalanan panjang tersebut menjadikan masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga bagian dari warisan sejarah Kampung Jawa Tondano.
Sejarah Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo
Kisah masjid bermula dari pengasingan Kyai Modjo bersama puluhan pengikutnya ke Tondano pada masa kolonial Belanda. Sebelumnya, rombongan tersebut sempat berada di Tonsea Lama dan mendirikan masjid di kawasan tersebut. Karena kondisi lingkungan yang dianggap kurang sesuai, mereka kemudian berpindah ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Jawa Tondano.
Baca juga: Masjid Agung Sumenep: Warisan Sejarah dan Akulturasi Seni Islam
Masjid yang menjadi cikal bakal Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo kemudian dibangun sekitar 1856. Pada masa awal, bangunannya masih sederhana dengan dinding bambu dan atap rumbia. Seiring perkembangan komunitas Muslim Jawa di Tondano, masjid mengalami sejumlah pemugaran. Pemugaran pertama tercatat berlangsung pada 1864 di bawah kepemimpinan Raden Syarif Abdullah bin Umar Assegaf.
Dalam perkembangannya, bangunan sederhana tersebut berubah menjadi bangunan berdinding beton. Meski mengalami perubahan, sejumlah elemen lama tetap dipertahankan sehingga nilai historis masjid masih dapat dirasakan hingga sekarang.
Arsitektur & Interior
Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo memiliki karakter kuat bergaya Joglo dengan atap limasan tumpang yang mengingatkan pada bentuk masjid tradisional Jawa, termasuk Masjid Agung Demak. Karakter tersebut menjadi bukti kuat hubungan budaya antara komunitas Jawa yang menetap di Tondano dengan tradisi arsitektur Islam di Jawa.
Bagian interior menyimpan sejumlah elemen bersejarah. Empat sokoguru atau tiang utama yang menopang bangunan disebut masih asli dan memiliki tinggi sekitar 18 meter. Selain itu, dinding sisi barat, mimbar, bedug, serta kentongan juga menjadi bagian yang masih dipertahankan.
Atap bagian dalam didominasi konstruksi kayu yang ditata secara artistik. Struktur kayu tersebut memperlihatkan detail persilangan dan lengkungan yang memperkuat karakter tradisional bangunan. Salah satu sumber juga mencatat penggunaan kayu jati pada struktur atap bagian dalam.
Untuk material kubah, sumber yang tersedia justru tidak menunjukkan keterangan bahwa masjid ini memiliki kubah sebagai elemen utama. Karena itu, material kubah tidak dapat dipastikan tanpa dokumentasi teknis dari pengelola. Karakter visual masjid lebih menonjolkan atap limasan tumpang khas arsitektur Jawa.
Dekorasi Masjid
Keunikan dekorasi Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo terlihat dari penggunaan ornamen kayu dan ukiran yang menjadi bagian penting interior. Mimbar lama menjadi salah satu peninggalan paling menarik karena masih digunakan dan disebut berasal dari sekitar 1856. Mimbar tersebut terbuat dari kayu dengan ukiran halus berupa ayat Al-Qur’an, sementara bagian depannya dihiasi kaligrafi yang berkaitan dengan rukun iman dan rukun Islam.
Ukiran juga ditemukan pada bagian struktur kayu di langit-langit. Motif bunga matahari dan dedaunan memberikan sentuhan dekoratif yang memperkuat nuansa klasik. Pada bagian pusat langit-langit, susunan kayu dibuat bertingkat dan mengerucut ke atas sehingga menghasilkan komposisi visual yang khas. Lampu gantung dengan 38 titik cahaya turut mempercantik ruang utama masjid.
Selain dekorasi, keberadaan bedug dan kentongan semakin memperkuat identitas tradisi Islam Jawa yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Berbagai unsur tersebut membuat Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo memiliki nilai historis, arsitektural, dan budaya yang saling berkaitan.
Kini, masjid tersebut tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kampung Jawa Tondano. Perpaduan sejarah Perang Jawa, peninggalan Kyai Modjo, tradisi Jawa, serta kehidupan masyarakat Minahasa menjadikan Masjid Agung Al Falah Kyai Modjo sebagai salah satu warisan Islam yang menarik untuk dikenali dan dilestarikan.

Cari Pengrajin atau Kontraktor Kubah Masjid atau Musholla?
Hubungi tim kami untuk simulasi harga gratis & survei lokasi.
Cari Kubah Masjid Terdekat? kubahmasjidmurah.com Jawabannya!
Kami melayani seluruh kota diseluruh Indonesia. Kami siap datang ke lokasi Anda dan membantu mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pemasangan kubah masjid yang kokoh dan indah.
Konsultasi Sekarang!
Dapatkan kubah masjid berkualitas dengan harga terjangkau dan pelayanan terdekat dari tim ahli kami