Konsultasi awal gratis untuk panitia masjid

WhatsApp 0851-2999-6515

Masjid Agung Banten: Arsitektur Kuno dan Jejak Kejayaan Islam

Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan Islam tertua di Nusantara yang sudah berdiri kokoh di kawasan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin adalah sultan pertama kesultanan Banten pada tahun 1556 Masehi,...

Masjid Agung Banten: Arsitektur Kuno dan Jejak Kejayaan Islam

Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan Islam tertua di Nusantara yang sudah berdiri kokoh di kawasan Banten. Sultan Maulana Hasanuddin adalah sultan pertama kesultanan Banten pada tahun 1556 Masehi, dia adalah pendiri dari tempat beribadah ini. Tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga menjadi simbol kemakmuran dan pusat peradaban Islam di ujung barat Pulau Jawa. Adanya Masjid ini menjadi sebuah saksi bisu akan kejayaan Kesultanan Banten sebagai niaga interionasional yang ramai pada abad ke-16 hingga ke-17.

Masjid Agung Banten menerapkan perpaduan arsitektur yang unik, dimana beberapa budaya saling dipadukan dengan harmonis, seperti Jawa, Tiongkok, dan Eropa. Ciri khas dari tempat beribadah ini yang paling menonjol adalah bagian atapnya. Atapnya berbentuk tumpuk lima, semakin tinggi atapnya semakin kecil desainnya yang terinspirasi dari arsitektur pura Tiongkok. Berbeda halnya dengan tempat ibadah lain di Indonesia yang mempunyai atap tumpang tiga, ini menunjukkan kayanya filosofi dan kearifan lokal pada desain. Puncak kubah masjid kecil menjadi ikon pemersatu nilai-nilai budaya yang menyatu dengan nilai keagamaan.

Arsitektur Masjid Agung Banten yang Kuno dan Kaya akan Nilai

Bangunan utama dihiasi dengan beberapa tiang penyangga, dimana biasa disebut sebagai soko guru di bagian dalamnya. Tiang-tiang tersebut terbuat dari kayu berkualitas tinggi, meskipun terlihat sederhana, struktur bangunannya sangat kuat dan tahan lama. Dinding-dinding yang menopang dan berdiri kokoh menjadi pembatas ruang utama masjid yang menjadi tempat salat.

Baca juga: Masjid Agung Semarang: Arsitektur Indah Dibawah Timbangan Syariat

Pada selatan masjid, terdapat dua bangunan tambahan, yakni Pawestren dan Tiyamah. Pawestren adalah tempat salat untuk jamaah perempuan, sedangkan Tiyamah sebagai tempat musyawarah, diskusi, dan kegiatan lainnya. Desain arsitektur pada Tiyamah terlihat memiliki gaya desain Belanda Kuno yang mendominasi, bangunan tersebut dirancang oleh Hendrick Lucasz Cardeel. Kemudian ia menjadi mualaf dan dibeli gelar Pangeran Wiraguna. Penerapan gaya Eropa ini menunjukkan sikap terbukanya Kesultanan Banten pada waktu itu terhadap budaya luar.

Baca juga: Masjid Kubah Hijau: Ikon Sentral di Atas Makam Nabi

Arsitektur-arsitektur tersebut semakin lengkap dengan adanya Menara Banten, dimana menara tersebut menghiasi area masjid setinggi 24 meter. Bentuknya sangat mirip dengan mercusuar, menara ini juga dirancang oleh Pangeran Wiraguna. Pada waktu itu, fungsinya bukan hanya tempat mengumandangkan adzan, tetapi juga sebagai menara pengawas. Jika diingat lokasi tempat beribadah tersebut dekat dengan pelabuhan. Untuk mencapai puncak, para pengunjung harus berjalan melalui tangga spiral yang sempit, Pengunjung pasti mendapatkan pengalaman tambahan yang bersejarah dan tidak dilupakan saat menelusuri peninggalan kejayaan ini.

Dekorasi dan Simbol Peradaban

Dekorasi masjid terlihat sederhana, meskipun begitu menyimpan makna yang sangat mendalam. Gaya dekorasi Tiongkok sangat jelas terlihat pada interior, contohnya terdapat piring-piring keramik Tiongkok kuno pada dinding. Bisa diambil kesimbulan bahwa dulunya Kesultanan memiliki hubungan yang erat dengan perdagangan Tiongkok. Dimana mereka adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ekonomi dan sosial Banten Lama.

Desain atap berlapis yang semakin tinggi semakin kecil bermakna tingkatan dalam ajaran agama Islam. Lapisan paling atas bisa dianologikan sebagai pengganti kubah masjid yang biasanya banyak diterapkan di Timur Tengah. Pemilihan desain atap tradisional Jawa daripada kubah menunjukkan upaya para ulama dan Sultan pada kala itu untuk memperpadukan Islam dengan budaya lokal agar lebih diterima oleh masyarakat setempat.

Selain itu, terdapat area pemakaman di area masjid, dimana salah satunya terdapat makam Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa. Adanya makam tersebut merupakan kehormatan bagi Sultan terdahulu dan menjadikannya sebagai tempat destinasi wisata ziarah yang sangat penting di Indonesia bagi seluruh para pengunjung.

Butuh Rekomendasi Untuk Proyek Masjid?

Kirim ukuran, foto bangunan, lokasi, serta anggaran panitia. Tim akan membantu memberi arah awal.

Konsultasi via WhatsApp