Masjid Jamik Pangkalpinang merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan keagamaan masyarakat di pusat Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Berdiri di kawasan yang kini dikenal dengan Jalan Masjid Jamik, Masjid Jamik Pangkalpinang ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menyimpan cerita tentang gotong royong, keberagaman masyarakat, dan perkembangan kota dari masa ke masa. Keberadaannya bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Kota Pangkalpinang.
Masjid Jamik Pangkalpinang pertama kali dibangun pada 3 Syawal 1355 Hijriah atau 18 Desember 1936 Masehi. Pembangunannya tidak dapat dilepaskan dari masyarakat Kampung Dalam dan Kampung Tengah Tua Tunu yang berpindah ke Pangkalpinang, kemudian membangun permukiman dengan nama kampung yang sama seperti daerah asal mereka. Dari sinilah masjid tersebut berkembang menjadi salah satu destinasi bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat setempat.
Sejarah Masjid Jamik Pangkalpinang
Pada awal pembangunannya, Masjid Jamik Pangkalpinang memiliki bentuk yang jauh berbeda dari bangunan yang dapat dilihat sekarang. Struktur awalnya berupa bangunan semi permanen dengan lantai semen dan dinding papan. Bentuk bangunan menyerupai piramida jika dilihat dari atas, sementara susunannya terdiri atas tiga tingkatan. Bagian bawah digunakan untuk salat dan pengajian, tingkat berikutnya menyimpan kitab, buku keagamaan, tikar, serta perlengkapan masjid, sedangkan bagian paling atas digunakan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan.
Perubahan besar terjadi pada 1950–1954 ketika masyarakat mulai melakukan renovasi dan perluasan secara lebih serius. Penggalangan dana dilakukan dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat di Pangkalpinang dan wilayah Bangka. Menariknya, pembangunan tersebut juga memperoleh dukungan dari masyarakat lintas etnis dan agama. Salah satunya berasal dari firma Ko Kian Lan yang menyumbang pembangunan kubah pertama. Fakta ini memperlihatkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Pangkalpinang pada masa itu.
Tokoh nasional Mohammad Hatta juga tercatat memberikan sumbangan sebesar Rp1.000 ketika mengunjungi Pangkalpinang pada Juli 1951. Selain itu, KH Mas’ud Nur berperan sebagai ketua panitia pembangunan, sedangkan Hadi Susilo turut berperan dalam merancang bangunan Masjid Jamik Pangkalpinang yang kemudian bertahan hingga sekarang. Renovasi tahap berikutnya menghasilkan menara setinggi 23 meter dan akhirnya seluruh pembangunan diresmikan pada 3 Juni 1961.
Arsitektur & Interior
Arsitektur Masjid Jamik memperlihatkan perpaduan karakter bangunan lama dengan kebutuhan masjid yang berkembang. Salah satu ciri yang masih terlihat adalah jendela dan pintu berukuran besar dengan kusen kayu berbentuk melengkung. Elemen tersebut dipadukan dengan engsel serta pengait besi model lama yang masih menjadi bagian dari karakter bangunan. Penggunaan banyak jendela juga membantu menciptakan sirkulasi udara alami di dalam masjid.
Bangunan ini memiliki empat tiang utama yang secara simbolis dikaitkan dengan Khulafaur Rasyidin. Di bagian depan terdapat lima pintu masuk, terdiri atas tiga pintu di sisi depan dan masing-masing satu pintu di sisi kanan serta kiri. Struktur bangunan juga memiliki tiga undakan atau tingkatan dengan satu kubah. Pada perkembangan berikutnya, jumlah menara bertambah hingga menjadi empat menara yang berada di sekitar bangunan masjid.
Interiornya juga mempertahankan sejumlah elemen material lama. Kaca buram, tiang, teras marmer, serta kusen kayu berukuran besar memberikan karakter visual yang berbeda dibandingkan masjid modern. Bagian bawah dinding juga pernah dilengkapi lapisan tegel marmer, sedangkan lantai dan dinding menggunakan tegel serta teraso. Kombinasi tersebut memperlihatkan bagaimana unsur fungsional dan estetika dirancang secara bersamaan.
Dekorasi
Keunikan dekorasi Masjid Jamik Pangkalpinang tidak hanya terletak pada ornamen, tetapi juga pada simbol yang melekat pada elemen bangunannya. Enam tiang penyangga kecil di bagian depan, tiga di kanan dan tiga di kiri, dimaknai sebagai representasi rukun iman. Sementara itu, empat tiang utama dikaitkan dengan jumlah Khulafaur Rasyidin. Simbol-simbol tersebut membuat detail arsitektur masjid memiliki makna keagamaan yang lebih dalam.
Karakter visual masjid semakin kuat dengan dominasi warna hijau pada bangunan. Di area depan juga terdapat meja dan tempat duduk dari batu berwarna putih yang menandai lokasi awal berdirinya masjid. Sebuah plakat beraksara Arab Melayu turut menjelaskan sejarah pembangunan di atas tanah wakaf dan mencantumkan tahun 1936. Keberadaan elemen tersebut menjadi penanda penting yang menghubungkan bangunan saat ini dengan sejarah awalnya.
Dengan sejarah panjang, arsitektur khas, dan nilai kebersamaan yang melekat sejak proses pembangunannya, Masjid Jamik Pangkalpinang memiliki posisi penting dalam warisan budaya Kota Pangkalpinang. Statusnya sebagai cagar budaya semakin memperkuat nilai sejarah bangunan ini. Hingga kini, masjid tersebut tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah sekaligus menjadi bagian dari identitas kota dan destinasi sejarah yang menarik untuk dikenali lebih jauh.

Cari Pengrajin Atau Kontraktor Kubah Masjid Atau Musholla?
Hubungi tim kami untuk simulasi harga gratis & survei lokasi.
Cari Kubah Masjid Terdekat? kubahmasjidmurah.com Jawabannya!
Kami melayani seluruh kota diseluruh indonesia. Kami siap datang ke lokasi Anda dan membantu mulai dari perencanaan, pembuatan, hingga pemasangan kubah masjid yang kokoh dan indah.
Konsultasi Sekarang
Dapatkan kubah masjid berkualitas dengan harga terjangkau dan pelayanan terdekat dari tim ahli kami.